Bapa, trima kasih atas kasihmu yg snantiasa Engkau curahkan bwtQ, Trimh kasih Bapa Engkau senantiasa menjagaQ Ajar aQ Bapa untuk tetap hidup dalam untaian kasih sayang bersama dgn sesama Sadarkan aku Bapa untuk tdk melakukan hal2 yg menyakiti sahabatku, tman, org2 yg ada diskitarQ, Oang tua, sanak keluarga dan Orang Yang paling Aku sayangi Ampunilah aku ya Bapa atas segala kesalahan yg telah aku lakukan dan Kupercaya Bapa Engkau Allah Yg baik dan bijaksana, Jikalau mreka tdk dapt memaafkan aku, maka hanya kepadaMU lah ku datang bersyujud dan memohon dalam tetesan air mata penyesalan, Ampunila aku, tetaplah Tuhan memberikan sinar kasih dalam jiwaku... Trimah kasih Bapak untuk segalanya...AMIN..
cerita tentang Lakipadada ini merupakan salah satu legenda Toraja dari sekian banyaknya legenda2 lainnya yang sungguh menarik. yah begitulah indahnya budaya Indonesia yang memiliki TORAJA sebagai salah satu bagian dari keanekaragaman yang dimilikinya. Lakipadada, adalah bangsawan toraja yang jadi paranoid terhadap maut, sehingga berusaha mencari mustika tang mate (ketidakmatian/keabadian/kekekalan/dsb) supaya dia bisa hidup kekal, tanpa dihantui kematian (cerita ini mirip dengan cerita Nabi Sulaiman). Didalam legendanya, Lakipadada diceritakan kehilangan orang2 yang sangat dia cintai, ibu, saudara perempuan, saudara laki-laki, bahkan pengawal dan hamba2nya satu demi satu meninggal dunia. Hal itu sungguh sangat menyedihkan bagi Lakipadada, hingga dia pun memutuskan untuk mengejar impian yang bagi kita sangatlah tidak mungkin. Lakipadadapun menjadi paranoid, dia berusaha menegasikan kemungkinan kematian juga datang padanya. Hingga akhirnya pergilah dia mengembara dengan tedong bonga (...
Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya. Siapa yang mencuri uang itu? Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul! Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, Ayah, aku yang melakukannya! Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesud...
Komentar
Posting Komentar